![]() |
| Grafiti bertuliskan "KAMI LAPAR TURUNKAN HARGA $" menjadi sorotan warga di beberapa kota di Jatim. (Dok. Ist) |
GELOMBANG keresahan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional semakin terlihat di berbagai daerah. Selain aksi demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat sipil, mahasiswa, hingga elemen akademisi, bentuk protes lain kini muncul dalam bentuk grafiti yang tersebar di sejumlah kota di Jawa Timur.
Di Kabupaten Jember, grafiti bertuliskan "Turunkan Harga Kami Lapar" ditemukan di beberapa titik strategis. Berdasarkan pantauan tim redaksi, coretan tersebut terlihat di kawasan Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Ikan Paus yang berada di wilayah Kecamatan Kaliwates.
Tulisan bernada protes itu menjadi perhatian masyarakat karena muncul di tengah meningkatnya keluhan warga terkait kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup yang dinilai semakin membebani masyarakat.
Grafiti tersebut mencerminkan keresahan sebagian warga yang merasakan dampak langsung dari kondisi ekonomi saat ini. Pesan "Turunkan Harga Kami Lapar" menggambarkan tuntutan agar harga kebutuhan pokok lebih terjangkau di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Fenomena Serupa Muncul di Surabaya dan Malang
Fenomena grafiti protes ekonomi tidak hanya terjadi di Jember. Di Kota Surabaya, tulisan dengan pesan serupa juga ditemukan di sejumlah lokasi strategis.
Coretan tersebut terlihat di kawasan Jalan Kertajaya, Jalan Dr. Soetomo, Jalan Kertajaya Indah, Jalan Rungkut, hingga Jalan Wonokromo. Dengan cat semprot berwarna hitam dan merah, tulisan tersebut menarik perhatian pengguna jalan yang melintas setiap hari.
Sementara itu di Kota Malang, sejumlah tembok di berbagai sudut kota juga dipenuhi tulisan bertuliskan "Turunkan Harga Kami Lapar Cok".
Berdasarkan pantauan lapangan, tulisan tersebut ditemukan di kawasan Purwantoro, Tulusrejo, Tungguwulung, Cengger Ayam, Jalan Industri Barat Purwantoro hingga wilayah Kecamatan Klojen.
Kemunculan grafiti di berbagai kota menunjukkan bahwa isu ekonomi menjadi perhatian luas masyarakat yang merasakan tekanan akibat meningkatnya biaya hidup.
Pelemahan Rupiah dan Inflasi Menjadi Sorotan
Keresahan masyarakat muncul seiring berbagai indikator ekonomi yang menjadi perhatian publik. Salah satunya adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus menjadi sorotan pasar.
Pelemahan kurs rupiah berdampak pada meningkatnya biaya impor bahan baku yang digunakan oleh berbagai sektor industri. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga barang konsumsi di dalam negeri dan memperbesar tekanan inflasi.
Ekonom menilai dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar atau masyarakat yang memiliki aktivitas internasional. Efeknya juga menjalar hingga ke tingkat masyarakat bawah karena banyak sektor produksi nasional masih bergantung pada bahan baku impor.
Akibatnya, kenaikan harga barang dapat terjadi di berbagai lini, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga sektor usaha kecil dan menengah.
![]() |
| Dok. Ist |
Kenaikan Harga BBM Dinilai Berpotensi Menekan Daya Beli
Di tengah tekanan ekonomi tersebut, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi perhatian masyarakat.
Kenaikan harga BBM berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang. Dampaknya dapat memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok yang pada akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat.
Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah menjadi pihak yang paling rentan terdampak karena harus menghadapi kenaikan pengeluaran di tengah pendapatan yang relatif stagnan.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa apabila tekanan inflasi terus berlangsung dan konsumsi masyarakat melemah, pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi mengalami perlambatan.
Kepercayaan Publik Turut Dipengaruhi Isu Tata Kelola dan Korupsi
Selain persoalan ekonomi, berbagai kasus dugaan korupsi yang mencuat belakangan ini juga menjadi sorotan publik. Salah satunya adalah kasus dugaan korupsi yang menyeret Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana beserta komplotannya. Kasus ini jadi sorotan publik karena merugikan negara hingga ratusan trilun.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, kemunculan grafiti protes di sejumlah kota Jawa Timur menjadi salah satu indikator meningkatnya ekspresi kekecewaan publik terhadap kondisi ekonomi yang mereka rasakan sehari-hari.
Bagi sebagian masyarakat, tembok-tembok kota kini tidak hanya menjadi ruang publik biasa, tetapi juga media untuk menyampaikan aspirasi dan kegelisahan atas naiknya harga kebutuhan hidup, melemahnya daya beli, serta ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi.



