![]() |
| Dok. UIN KHAS Jember. |
JATIMTERKINI.ID — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember kelompok 34 melaksanakan observasi potensi sektor budidaya mangrove di Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, pada Jumat (3/7/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari pemetaan aset desa dengan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), yang berfokus pada pengembangan potensi yang telah dimiliki masyarakat.
Observasi dilakukan bersama narasumber, Ibu Maimunah, Kepala Dusun Krajan I yang turut aktif dalam pengelolaan kawasan mangrove. Dari hasil observasi diketahui bahwa pada bulan Juli 2026 akan dilakukan penanaman sekitar 3.700 bibit mangrove yang merupakan bantuan dari Dinas Kehutanan.
Selain itu, masyarakat juga secara mandiri melakukan pembibitan mangrove dan bibit cemara sebagai upaya rehabilitasi kawasan pesisir.
"Kami berharap masyarakat terus ikut merawat mangrove, karena selain sebagai pelindung pantai, mangrove juga memiliki banyak manfaat yang dapat dikembangkan menjadi produk dan sumber penghasilan warga," ujar Ibu Maimunah.
Kawasan mangrove di Desa Alasbuluh tidak hanya berfungsi sebagai benteng alami pesisir, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku berbagai produk bernilai ekonomi. Jenis Rhizophora dimanfaatkan sebagai pewarna alami batik setelah melalui proses pengolahan, sedangkan Avicennia diolah menjadi kopi mangrove dan tepung dengan berbagai kegunaan. Selain itu, buah pidada (bidada) juga dimanfaatkan menjadi sirup serta bahan dasar kosmetik.
Dalam pengelolaannya, kawasan mangrove didukung oleh dua Kelompok Tani Hutan (KTH) serta KOMPAK (Kelompok Masyarakat Penggerak) yang berperan aktif dalam pelestarian dan pengembangan kawasan. Berbagai produk lokal yang telah dihasilkan masyarakat antara lain kopi jagung, lulur, bedak tabur untuk mengatasi gatal, serta produk olahan mangrove lainnya.
Selain potensi ekonomi, kawasan mangrove juga didukung oleh aktivitas sosial masyarakat yang rutin dilaksanakan. Setiap malam Minggu masyarakat mengadakan kegiatan istighosah bersama, sedangkan setiap Minggu sore dilakukan kerja bakti membersihkan kawasan pantai yang diawali dengan senam bersama. Kegiatan tersebut meliputi pembersihan sampah, perawatan tanaman mangrove, serta menjaga kebersihan lingkungan pesisir. Sementara itu, pada 5 Juli 2026 masyarakat juga melaksanakan kegiatan Posyandu dan bazar jilbab sebagai bagian dari aktivitas pemberdayaan masyarakat.
Menurut Ibu Maimunah, kawasan mangrove memiliki potensi yang terus dikembangkan, baik dari sisi konservasi maupun pemanfaatan hasilnya menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomi. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan kawasan mangrove agar tetap memberikan manfaat bagi lingkungan dan kesejahteraan warga.
Koordinator Desa (Kordes) KKN UIN KHAS Jember, Achmad Lutfi H, mengatakan bahwa observasi ini memberikan gambaran nyata mengenai besarnya potensi yang dimiliki Desa Alasbuluh. "Saya sendiri juga cukup terkesan melihat bagaimana masyarakat mampu mengelola kawasan mangrove tidak hanya sebagai upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga mengembangkannya menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi. Potensi seperti ini sangat layak untuk terus diperkuat melalui dokumentasi, edukasi, dan promosi agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas," ujarnya.
Melalui kegiatan observasi ini, mahasiswa KKN UIN KHAS Jember khususnya kelompok 34 berharap hasil pemetaan potensi desa dapat menjadi dasar dalam penyusunan program kerja yang sesuai dengan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD). Program yang dirancang nantinya diharapkan mampu memperkuat aset yang telah dimiliki masyarakat, khususnya pada sektor mangrove, sehingga dapat mendukung pengembangan edukasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta promosi potensi Desa Alasbuluh secara berkelanjutan.
*Artikel bersumber dari mahasiswa KKN UIN KHAS Jember.


