Tpr7TUGpBSO6TUM6TUY5TUWlGi==

Satelit Google Berhasil Jalankan AI di Luar Angkasa dan Menulis Puisi

ilustrasi satelit Google untuk menjalankan komputasi AI di luar angkasa
Ilustrasi satelit prototipe Google dalam proyek Project Suncatcher untuk menguji teknologi komputasi AI di orbit Bumi. (Dok. Ist)

JATIMTERKINI.ID — Google berhasil menjalankan teknologi kecerdasan buatan (AI) langsung melalui satelit yang mengorbit Bumi.

Dalam uji coba tersebut, satelit bahkan mampu membuat puisi bertema luar angkasa menggunakan model AI Gemma 4, kemudian mengirimkan hasilnya kembali ke Bumi.

Eksperimen ini menjadi bagian dari proyek Google bernama Project Suncatcher, sebuah program pengembangan pusat data AI di luar angkasa.

Melalui proyek tersebut, Google ingin membangun jaringan satelit yang dapat menjalankan komputasi AI tanpa harus selalu mengandalkan pusat data di permukaan Bumi.

Satelit prototipe yang digunakan dikembangkan bersama Planet Labs dan diluncurkan menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX pada 1 Oktober 2026.

Setelah menjalani pemeriksaan dan pengujian selama sekitar tiga minggu, satelit tersebut akhirnya berhasil menjalankan model AI Gemma 4 buatan Google DeepMind.

Satelit berhasil membuat puisi dari luar angkasa

Dalam pengujian awal, tim Google memberikan perintah kepada AI di dalam satelit untuk membuat puisi haiku bertema luar angkasa.

Satelit kemudian memproses perintah tersebut dan mengirimkan hasilnya ke stasiun penerima di Bumi.

Berikut puisi yang berhasil dibuat oleh AI tersebut:

Blue marble below

Data streams in silent grace

Starlight feeds my core.

Puisi tersebut menggambarkan Bumi sebagai bola biru yang terlihat dari luar angkasa, aliran data yang bergerak dalam keheningan, serta cahaya bintang yang menjadi sumber energi bagi sistem komputasi.

Google menyebut keberhasilan ini sebagai Hello World milestone atau tahap awal yang menandai bahwa sistem AI berhasil dijalankan melalui satelit di orbit.

Pengujian sederhana tersebut menjadi bukti awal bahwa chip AI dapat digunakan untuk memproses perintah secara langsung di luar angkasa.

Menguji kemampuan chip AI di luar angkasa

Satelit prototipe Google dilengkapi empat unit Tensor Processing Unit (TPU), yaitu chip khusus yang dirancang perusahaan tersebut untuk menjalankan berbagai pekerjaan komputasi AI.

TPU menjadi salah satu teknologi yang digunakan Google sebagai alternatif GPU atau prosesor grafis yang selama ini banyak dipakai untuk menjalankan sistem AI.

Satelit tersebut mampu menghasilkan daya listrik hingga 1 kilowatt.

Namun, pasokan energi yang tersedia masih terbatas sehingga sistem hanya dapat mengoperasikan satu TPU dalam satu waktu selama sekitar 20 menit.

Selain membuat puisi haiku, Google juga mencoba sejumlah perintah lain untuk menguji kemampuan satelit.

Beberapa pengujian tersebut meliputi pembuatan puisi limerick bertema luar angkasa dan pengiriman laporan kondisi perangkat melalui data telemetri.

Data telemetri merupakan informasi yang dikirimkan perangkat untuk menunjukkan kondisi dan kinerja sistem selama beroperasi.

Tahap berikutnya adalah menguji ketahanan chip TPU terhadap suhu ekstrem dan radiasi di luar angkasa.

Kedua kondisi tersebut menjadi tantangan karena komponen elektronik harus tetap bekerja meskipun berada di lingkungan yang jauh berbeda dari pusat data di Bumi.

Salah satu risiko yang mendapat perhatian adalah fenomena bit flip, yaitu perubahan nilai bit dalam memori komputer akibat gangguan radiasi.

Perubahan tersebut dapat menyebabkan data mengalami kerusakan tanpa selalu terdeteksi oleh sistem pemantauan biasa.

Sebelumnya, Google telah melakukan simulasi paparan radiasi menggunakan akselerator partikel di Bumi.

Namun, perusahaan tetap membutuhkan pengujian langsung di orbit untuk mengetahui kemampuan chip menghadapi kondisi luar angkasa yang sebenarnya.

Google berencana menambah satelit pada 2027

Setelah keberhasilan pengujian satelit pertama, Google berencana melanjutkan pengembangan Project Suncatcher dengan menambah dua satelit pada 2027.

Kedua satelit tersebut nantinya akan dilengkapi teknologi komunikasi optik antarsatelit atau optical links.

Teknologi ini memungkinkan satelit saling mengirimkan data menggunakan sinar laser berkecepatan tinggi.

Dengan sistem tersebut, pekerjaan komputasi AI tidak harus diselesaikan oleh satu satelit saja.

Sebaliknya, tugas komputasi dapat dibagi ke beberapa satelit yang saling terhubung sehingga membentuk jaringan pusat data di orbit Bumi.

Dalam jangka panjang, Google membayangkan ribuan satelit dapat bekerja bersama untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI dalam skala besar.

Konsep ini juga menawarkan peluang pemanfaatan energi Matahari secara lebih konsisten.

Satelit yang berada pada orbit tertentu berpotensi memperoleh paparan sinar Matahari lebih lama dibandingkan panel surya di permukaan Bumi yang produksinya dipengaruhi pergantian siang dan malam serta kondisi cuaca.

Ketersediaan energi Matahari menjadi salah satu alasan Google tertarik mengembangkan pusat data berbasis satelit.

Tantangan membangun pusat data AI di luar angkasa

Meski memiliki potensi, pembangunan pusat data AI di luar angkasa masih menghadapi sejumlah kendala teknis dan biaya.

Salah satu tantangan terbesarnya adalah biaya peluncuran satelit ke orbit yang masih sangat tinggi.

Selain itu, perangkat komputasi membutuhkan sistem pendingin yang mampu bekerja dalam kondisi luar angkasa.

Ketersediaan energi juga harus diperhitungkan agar chip AI dapat beroperasi sesuai kebutuhan tanpa mengalami keterbatasan daya.

Ketahanan komponen elektronik terhadap radiasi menjadi persoalan lain yang harus diselesaikan sebelum jaringan pusat data di orbit dapat dikembangkan dalam skala besar.

Google juga bukan satu-satunya perusahaan yang mulai mengembangkan gagasan pusat data AI di luar angkasa.

Sejumlah perusahaan lain, seperti SpaceX, Starcloud, dan Cowboy Space, turut menjajaki kemungkinan membangun infrastruktur komputasi berbasis satelit.

Namun, Project Suncatcher memiliki fokus pada pengembangan banyak satelit yang saling terhubung sehingga pekerjaan AI dapat dibagi dan dijalankan secara bersamaan.

Apabila seluruh teknologi tersebut berhasil dikembangkan, pusat data AI pada masa mendatang berpeluang tidak lagi hanya bergantung pada fasilitas yang dibangun di permukaan Bumi.

Keberhasilan satelit Google menjalankan Gemma 4 dan menghasilkan puisi menjadi langkah awal untuk menguji kemungkinan tersebut, meskipun masih banyak tantangan yang harus diselesaikan sebelum konsep pusat data AI di luar angkasa dapat digunakan secara luas.

angkasa17

Ketik kata kunci lalu Enter

close