| Aktivitas perdagangan luar negeri Jawa Timur hingga Juli 2026 menunjukkan ekspor dan impor bergerak berlawanan. (Dok. Ist) |
JATIMTERKINI.ID — Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur sepanjang Januari-Juli 2026 menunjukkan arah yang berbeda antara ekspor dan impor. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat nilai ekspor turun 5,33 persen, sementara impor justru tumbuh 16,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pelaksana Tugas Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati mengatakan nilai ekspor Jawa Timur selama tujuh bulan pertama 2026 mencapai 16,08 miliar dolar AS. Angka itu lebih rendah dibandingkan periode Januari-Juli 2025 yang mencapai 16,99 miliar dolar AS.
“Penurunan ini disebabkan oleh penurunan ekspor nonmigas yang sebesar 4,43 persen,” kata Herum di Surabaya, Rabu (2/9/2026).
Ekspor Jatim tertekan penurunan migas
Dari total ekspor tersebut, komponen nonmigas turun 4,43 persen dari 16,64 miliar dolar AS menjadi 15,90 miliar dolar AS. Penurunan lebih tajam terjadi pada ekspor migas yang merosot 48,07 persen dari 349,45 juta dolar AS menjadi 181,47 juta dolar AS.
Melemahnya ekspor migas terutama dipicu penurunan ekspor minyak mentah. Nilainya turun 65,54 persen dari 317,11 juta dolar AS menjadi 109,28 juta dolar AS.
Secara bulanan, ekspor Jawa Timur pada Juli 2026 tercatat 2,65 miliar dolar AS. Nilai tersebut turun 9,15 persen dibandingkan Juli 2025, dengan ekspor nonmigas menjadi salah satu penyumbang penurunan setelah turun 7,94 persen secara tahunan menjadi 2,64 miliar dolar AS.
Meski secara total mengalami kontraksi, beberapa komoditas nonmigas justru mencatat kenaikan nilai ekspor. Tembaga menjadi komoditas dengan peningkatan terbesar di antara 10 golongan barang ekspor nonmigas utama.
Ekspor tembaga atau HS 74 naik 39,51 persen menjadi 2,08 miliar dolar AS. Tiongkok menjadi tujuan utama komoditas tersebut dengan nilai pengiriman mencapai 565,08 juta dolar AS.
Lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) juga mencatat pertumbuhan 28,41 persen menjadi 1,67 miliar dolar AS. Nilai ekspor ke Tiongkok untuk komoditas ini mencapai 745,41 juta dolar AS.
Sementara itu, ekspor olahan ikan, krustasea, dan moluska (HS 16) meningkat 17,04 persen menjadi 503,70 juta dolar AS. Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan nilai ekspor sebesar 251,14 juta dolar AS.
Berbeda dengan komoditas-komoditas tersebut, perhiasan dan permata (HS 71) mengalami penurunan paling dalam. Nilai ekspornya merosot 54,17 persen dibandingkan Januari-Juli 2025 menjadi 1,73 miliar dolar AS.
Impor Jatim tumbuh 16,56 persen
Kondisi impor bergerak berlawanan dengan ekspor. BPS mencatat nilai impor Jawa Timur Januari-Juli 2026 mencapai 19,52 miliar dolar AS, naik 16,56 persen dari 16,74 miliar dolar AS pada periode yang sama 2025.
“Sejalan dengan itu, nilai impor migas dan nonmigas naik,” ujar Herum.
Impor nonmigas meningkat 14,16 persen dari 13,94 miliar dolar AS menjadi 15,91 miliar dolar AS. Sementara impor migas tumbuh lebih tinggi, yakni 28,48 persen dari 2,81 miliar dolar AS menjadi 3,61 miliar dolar AS.
Di dalam kelompok migas, impor minyak mentah naik 22,34 persen dari 317,07 juta dolar AS menjadi 387,90 juta dolar AS. Impor hasil minyak juga meningkat 30,53 persen dari 1,80 miliar dolar AS menjadi 2,35 miliar dolar AS.
Pada Juli 2026 saja, impor Jawa Timur mencapai 3,01 miliar dolar AS atau tumbuh 19,5 persen dibandingkan Juli 2025. Impor nonmigas menyumbang 2,52 miliar dolar AS dengan pertumbuhan 22,3 persen, sedangkan impor migas mencapai 490 juta dolar AS atau naik 6,8 persen.
Tiongkok dominasi sejumlah komoditas impor
Kenaikan impor juga terlihat pada sejumlah golongan barang utama. Buah-buahan (HS 08) mencatat peningkatan nilai impor sebesar 214,49 juta dolar AS atau tumbuh 35,87 persen, dengan pasokan terbesar berasal dari Tiongkok senilai 740,29 juta dolar AS.
Besi dan baja (HS 72) bertambah 28,04 persen atau sebesar 245,05 juta dolar AS. Tiongkok kembali menjadi sumber utama dengan nilai impor mencapai 659,72 juta dolar AS.
Impor pupuk (HS 31) meningkat 26,88 persen atau bertambah 181,31 juta dolar AS. Untuk komoditas ini, Rusia menjadi negara asal utama dengan nilai impor sebesar 268,11 juta dolar AS.
Sementara itu, mesin dan peralatan mekanis (HS 84) naik 13,70 persen dari 1,47 miliar dolar AS menjadi 1,67 miliar dolar AS. Tiongkok menjadi pemasok utama dengan nilai mencapai 872,82 juta dolar AS.
Secara keseluruhan, 10 golongan barang impor nonmigas terbesar menyumbang 58,61 persen dari total impor nonmigas Jawa Timur sepanjang Januari-Juli 2026. Nilai impor kelompok tersebut juga meningkat 16,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data BPS menunjukkan perdagangan luar negeri Jawa Timur hingga Juli 2026 masih menghadapi tekanan di sisi ekspor, sementara arus impor justru meningkat cukup kuat. Sejumlah komoditas ekspor tetap tumbuh, sedangkan impor mencatat kenaikan pada berbagai barang yang masuk ke Jawa Timur.

